Sabtu, 10 Juli 2010

askep Gagal ginjal





GAGAL GINJAL



  • Pengertian


    Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. Gagal ginjal kronis terjadi dengan lambat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dengan penurunan bertahap dengan fungsi ginjal dan peningkatan bertahap dalam gejala-gejala, menyebabkan penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Gagal ginjal kronis biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Gangguan fungsi ginjal adalah penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat digolongkan ringan, sedang dan berat. Azotemia adalah peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat.


    Etiologi
    Gagal ginjal kronik merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible dari berbagai penyebab. Sebab-sebab gagal ginjal kronik yang sering ditemukan dapat dibagi menjadi delapan kelas.
    Klasifikasi sebab-sebab gagal ginjal kronik :


    • Infeksi : Pielonefritis kronik
    • Penyakit peradangan : Glomerulonefritis
    • Penyakit vascular hipertensi : Nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis.
    • Gangguan jaringan penyambung : Lupus eritematosus sistemik, Poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.
    • Gangguan kongerital dan hereditas : Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal.
    • Penyakit metabolic : Diabetes militus, gout, hiperpara tiroidisme, amiloidosis.
    • Nefropati toksik : Penyalahgunaan analgesik, nefropati timbale
    • Nefropati obstruktif : Saluran kemih bagian atas kalkuli , neoplasma, fibrosisretroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostate, struktur urea, anomaly kongetal pada leher kandung kemih dan uretra.






  • Tanda dan gejala
    Penurunan fungsi ginjal akan mengakibatkan berbagai manifestasi klinik mengenai dihampir semua sistem tubuh manusia, seperti:


    • Gangguan pada Gastrointestinal
      Dapat berupa anoreksia, nausea, muntah yang dihubungkan dengan terbentuknya zat toksik (amoniak, metal guanidin) akibat metabolisme protein yang terganggu oleh bakteri usus sering pula faktor uremikum akibat bau amoniak dari mulut. Disamping itu sering timbul stomatitis, cegukan juga sering yang belum jelas penyebabnya. Gastritis erosif hampir dijumpai pada 90 % kasus Gagal Ginjal Kronik, bahkan kemungkinan terjadi ulkus peptikum dan kolitis uremik.
    • Kulit
      Kulit berwarna pucat, mudah lecet, rapuh, kering, timbul bintik-bintik hitam dan gatal akibat uremik atau pengendapan kalsium pada kulit.
    • Hematologi
      Anemia merupakan gejala yang hampr selalu ada pada Gagal Ginjal Kronik. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal tanpa disertai anemia perlu dipikirkan apakah suatu Gagal Ginjal Akut atau Gagal Ginjal Kronik dengan penyebab polikistik ginjal yang disertai polistemi. Hemolisis merupakan sering timbul anemi, selain anemi pada Gagal Ginjal Kronik sering disertai pendarahan akibat gangguan fungsi trombosit atau dapat pula disertai trombositopeni. Fungsi leukosit maupun limposit dapat pula terganggu sehingga pertahanan seluler terganggu, sehingga pada penderita Gagal Ginjal Kronik mudah terinfeksi, oleh karena imunitas yang menurun.
    • Sistem Saraf Otot
      Penderita sering mengeluh tungkai bawah selalu bergerak-gerak (restlesslessleg syndrome), kadang tersa terbakar pada kaki, gangguan syaraf dapat pula berupa kelemahan, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, tremor, kejang sampai penurunan kesadaran atau koma.
    • Sistem Kardiovaskuler
      Pada gagal ginjal kronik hampir selalu disertai hipertensi, mekanisme terjadinya hipertensi pada Gagal Ginjal Kronik oleh karena penimbunan garam dan air, atau sistem renin angiostensin aldosteron (RAA). Sesak nafas merupakan gejala yang sering dijumpai akibat kelebihan cairan tubuh, dapat pula terjadi perikarditis yang disertai efusi perikardial. Gangguan irama jantung sering dijmpai akibat gangguan elektrolit.
    • Sistem Endokrin
      Gangguan seksual seperti penurunan libido, ion fertilitas sering dijumpai pada Gagal Ginjal Kronik, pada wanita dapat pula terjadi gangguan menstruasi sampai aminore. Toleransi glukosa sering tergangu paa Gagal Ginjal Kronik, juga gangguan metabolik vitamin D.
    • Gangguan lain
      Akibat hipertiroid sering terjadi osteoporosis, osteitis, fibrasi, gangguan elektrolit dan asam basa hampir selalu dijumpai, seperti asidosis metabolik, hiperkalemia, hiperforfatemi, hipokalsemia.







  • Pemerikasaan Penunjang


    Urine
    Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tak keluar (anuria)
    Warna : Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus bakteri, lemak, partikel koloid, forfat atau urat. Sedimen kotor, kecoklatan menunjukan adanya darah, HB, mioglobin.
    Berat jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukan kerusakan ginjal berat).
    Osmolalitas : Kurang dari 350 mosm/kg menunjukan kerusakan tubular, dan rasio urine/serum sering 1:1
    Klirens keratin : Mungkin agak menurun
    Natrium : Lebih besar dari 40 m Eq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium.
    Protein : Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada.
    Darah
    BUN / Kreatin : Meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi kadar kreatinin 16 mg/dL diduga tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5)
    Hitung darah lengkap : Ht : Menurun pada adanya anemia Hb:biasanya kurang ari 78 g/dL
    SDM : Waktu hidup menurun pada defisiensi aritropoetin seperti pada azotemia.
    GDA : pH : Penurunan asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksresi hydrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun, PCO2 menurun .
    Natrium Serum : Mungkin rendah (bila ginjal “kehabisan Natrium” atas normal (menunjukan status dilusi hipernatremia).
    Kalium : Peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan. Pada tahap akhir, perubahan EKG mungkin tidak terjadi sampai kalium 6,5 MPq atau lebih besar.
    Magnesium/Fosfat : Meningkat
    Kalsium : Menurun
    Protein (khususnya Albumin) : Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan, penurunan pemasukan, atau penurunan sintesis karena kurang asam amino esensial.
    Osmolalitas Serum : Lebih besar dari 285 mOsm/kg, sering sama dengan urine.
    KUB fota : Menunujukkan ukuran ginjal / ureter / kandung kemih dan adanya obstruksi (batu)
    Piolegram Retrograd : Menunujukkan abnormallitas pelvis ginjal dan ureter.
    Arteriogram Ginjal : Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular massa.
    Sistouretrogram Berkemih : Menunjukan ukuran kandung kemih, refluks ke dalam ureter, terensi.
    Ultrasono Ginjal : Menentukan ukuran ginjal dan adanya massa, kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
    Biopsi Ginjal : Mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histoligis.
    Endoskopi Ginjal, Nefroskopi : Dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal, keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif.
    EKG : Mungkin abnormal menunjukan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa.
    Foto Kaki, Tengkorak, Kolmna Spiral dan Tangan : Dapat menunjukan demineralisasi.
    (Rencana Askep, Marilyn E Doenges dkk)







  • Pencegahan



    Pemeliharaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi. Sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan).







  • Pengobatan / Penatalaksanaan


    Tujuan penatalaksaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Adapun penatalaksaannya sebagai berikut :
    • Diet tinggi kalori dan rendah protein
      Diet rendah protein (20-40 g/hari) dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan nausea dari uremia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan berlebihan dari kalium dan garam.
    • Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam.
      Biasanya diusahakan hingga tekanan vena juga harus sedikit meningkat dan terdapat edema betis ringan. Pada beberapa pasien, furosemid dosis besar (250-1000 mg/hari) atau diuretic 100p (bumetanid, asam etakrinat) diperlukan untuk mencegah kelebihan cairan, sementara pasien lain mungkin memerlukan suplemen natrium klorida atau natrium bikarbonat oral. Pengawasan dilakukan melalui berat badan, urine, dan pencatatan keseimbangan cairan (masukan melebihi keluaran sekitar 500 ml).
    • Kontrol hipertensi
      Bila tidak terkontrol dapat terakselerasi dengan hasil akhir gagal kiri pada pasien hipertensi dengan penyakit ginjal, keseimbangan garam dan cairan diatur tersendiri tanpa tergantung tekanan darah, sering diperlukan diuretik loop, selain obat anti hipertensi.
    • Kontrol ketidaksemibangan elektrolit
      Yang sering ditemukan adalah hiperkalemia dan asidosis berat. Untuk mencegah hiperkalemia, dihindari masukan kalium yang besar (batasi hingga 60 mmol/hari), diuretik hemat kalium, obat-obatan yang berhubungan dengan eksresi kalium (misalnya penghambat ACE dan obat anti inflamasi non steroid), asidosis berat, atau kekurangan garam yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam kaliuresis. Deteksi melalui kadar kalium plasma dan EKG.
      Gejala-gejala asidosis baru jelas bila bikarbonat plasma kurang dari 15 mmol/liter biasanya terjadi pada pasien yang sangat kekurangan garam dan dapat diperbaiki secara spontan dengan dehidrasi. Namun perbaikan yang cepat dapat berbahaya.
    • Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang ginjal
      Hiperfosfatemia dikontrol dengan obat yang mengikat fosfat seperti alumunium hidroksida (300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-3000mg) pada setiap makan. Namun hati-hati dengan toksisitas obat tertentu. Diberikan supplemen vitamin D dan dilakukan paratiroidektomi atas indikasi.
    • Deteksi dini dan terapi infeksi
      Pasien uremia harus diterapi sebagai pasien imuosupresif dan diterapi lebih ketat.
    • Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal
      Banyak obat-obatan yang harus diturunkan dosisnya karena metabolitnya toksik dan dikeluarkan oleh ginjal. Misalnya digoksin, aminoglikosid, analgesic opiat, amfoterisin dan alupurinol. Juga obat-obatan yang meningkatkan katabolisme dan ureum darah, misalnya tetrasiklin, kortikosteroid dan sitostatik.
    • Deteksi dan terapi komplikasi
      Awasi denagn ketat kemungkinan ensefelopati uremia, perikarditis, neurepati perifer, hiperkalemia yang meningkat, kelebihan cairan yang meningkat, infeksi yang mengancam jiwa, kegagalan untuk bertahan, sehingga diperlukan dialysis.
    • Persiapan dialysis dan program transplantasi
      Segera dipersiapkan setelah gagal ginjal kronik dideteksi. Indikasi dilakukan dialysis biasanya adalah gagal ginjal dengan klinis yang jelas meski telah dilakukan terapi konservatif atau terjadi komplikasi.





    ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL GINJAL1. Pengkajian


    • Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan sebelumnya
      Berapa lama klien sakit, bagaimana penanganannya, mendapat terapi apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
    • Aktifitas / istirahat :
      Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise
      Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)
      Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
    • Sirkulasi


      Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, palpatasi, nyeri dada (angina)
      Hipertensi, DUJ, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak tangan.
      Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, yang jarang pada penyakit tahap akhir.
      Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.
      Kecenderungan perdarahan
    • Integritas Ego :
      Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
      Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.


    • Eliminasi :
      Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut)
      Abdomen kembung, diare, atau konstipasi
      Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, oliguria.
    • Makanan / cairan :
      Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan (malnutrisi).
      Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia)
      Penggunaan diuretik
      Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)
      Perubahan turgor kulit/kelembaban.
      Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.
    • Neurosensori
      Sakit kepala, penglihatan kabur.
      Kram otot / kejang, syndrome “kaki gelisah”, rasa terbakar pada telapak kaki, kesemutan dan kelemahan, khususnya ekstremiras bawah.
      Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor.
      Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.
      Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
    • Nyeri / kenyamanan
      Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki.
      Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah.


    • Pernapasan
      Napas pendek, dispnea, batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.
      Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman.
      Batuk dengan sputum encer (edema paru).
    • Keamanan
      Kulit gatal
      Ada / berulangnya infeksi
      Pruritis
      Demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada pasien yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal.
      Ptekie, area ekimosis pada kulit
      Fraktur tulang, keterbatasan gerak sendi
    • Seksualitas
      Penurunan libido, amenorea, infertilitas
    • Interaksi sosial
      Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.
    • Penyuluhan / Pembelajaran
      Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis heredeter, kalkulus urenaria, maliganansi.
      Riwayat terpejan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.
      Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang.

    2. Diagnosa Keperawatan


    Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien. Kemungkinan diagnosa keperawatan dari orang dengan kegagalan ginjal kronis adalah sebagai berikut :
    • Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.
    • Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut.
    • Intoleran aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi, produk sampah.
    • Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, dan rencana tindakan.

    3. Intervensi

    Diagnosa I


    Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebihan dan retensi cairan serta natrium.
    Tujuan : mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan.
    Kriteria hasil :
    • Menunjukkan pemasukan dan pengeluaran mendekati seimbang
    • Turgor kulit baik
    • Membran mukosa lembab
    • Berat badan dan tanda vital stabil
    • Elektrolit dalam batas normal

    Intervensi



    1. Kaji status cairan :


      • Timbang berat badan harian
      • Keseimbangan masukan dan haluaran
      • Turgor kulit dan adanya oedema
      • Distensi vena leher
      • Tekanan darah, denyut dan irama nadi
      Pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi.
      Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    2. Batasi masukan cairan :
      Pembatasan cairan akan menentukan berat badan ideal, haluaran urine dan respons terhadap terapi. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
      Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    3. Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan
      Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    4. Pantau kreatinin dan BUN serum
      Perubahan ini menunjukkan kebutuhan dialisa segera. (Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, vol 1, Barbara Ensram, hal 156).

    Diagnosa II

    Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual dan muntah, pembatasan diet perubahan membran mukosa mulut.
    Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat
    Kriteria hasil :


    • Mempertahankan/meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu.
    • Bebas oedema

    Intervensi



    1. Kaji / catat pemasukan diet
      Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum gejala uremik dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan. (Rencana Asuhan Keperawatan, Marylinn E. Doenges, hal 620).
    2. Kaji pola diet nutrisi pasien


      • Riwayat diet
      • Makanan kesukaan
      • Hitung kalori
      Pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    3. Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi


      • Anoreksia, mual dan muntah
      • Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien
      • Depresi
      • Kurang memahami pembatasan diet
      Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang dapat diubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet.
    4. Berikan makan sedikit tapi sering
      Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya peristaltik. (Rencana Asuhan Keperawatan, Marylinn E. Doenges, hal 620).
    5. Berikan pasien / orang terdekat daftar makanan / cairan yang diizinkan dan dorong terlibat dalam pilihan menu.
      Memberikan pasien tindakan kontrol dalam pembatasan diet. Makanan dan rumah dapat meningkatkan nafsu makan. (Rencana Asuhan Keperawatan, Marylinn E. Doenges, hal 620).
    6. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet
      Mendorong peningkatan masukan diet
    7. Tinggikan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi : telur, susu, daging.
      Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    8. Timbang berat badan harian.
      Untuk memantau status cairan dan nutrisi.


    Diagnosa III


    Intoleran aktifitas berhubungan dengan kelelahan, anemia dan retensi produk sampah
    Tujuan : Berpartisipasi dalam aktifitas yang dapat ditoleransi
    Kriteria hasil :
    • Berkurangnya keluhan lelah
    • Peningkatan keterlibatan pada aktifitas social
    • Laporan perasaan lebih berenergi
    • Frekuensi pernapasan dan frekuensi jantung kembali dalam rentang normal setelah penghentian aktifitas.



    Intervensi
    1. Kaji faktor yang menimbulkan keletihan


      • Anemia
      • Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
      • Retensi produk sampah
      • Depresi
      Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan
      (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1454).
    2. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi.
      Meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki harga diri.
    3. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat.
      Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1454).
    4. Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis
      Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis, yang bagi banyak pasien sangat melelahkan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1454).


    Diagnosa IV
    Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondis, pemeriksaan diagnostic, rencana tindakan dan prognosis.
    Tujuan : Ansietas berkurang dengan adanya peningkatan pengetahuan tentang penykit dan pengobatan.
    Kriteria hasil :
    • Mengungkapkan pemahaman tentangkondisi, pemeriksaan diagnostic dan rencana tindakan.
    • Sedikit melaporkan perasaan gugup atau takut.


    Intervensi
    1. Bila mungkin atur untuk kunjungan dari individu yang mendapat terapi.
      Indiviodu yang berhasil dalam koping dapat pengaruh positif untuk membantu pasien yang baru didiagnosa mempertahankan harapan dan mulai menilai perubahan gaya hidup yang akan diterima. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1, Barbara Engram hal 159).
    2. Berikan informasi tentang :


      • Sifat gagal ginjal. Jamin pasien memahami bahwa gagal ginjal kronis adalah tak dapat pulih dan bahwa lama tindakan diperlukan untuk mempertahankan fungsi tubuh normal.
      • Pemeriksaan diagnostic termasuk :


        • Tujuan
        • Diskripsi singkat
        • Persiapan yang diperlukan sebelum tes
        • Hasil tes dan kemaknaan hasil tes.
        Pasien sering tidak memahami bahwa dialisa akan diperlukan selamanya bila ginjal tak dapat pulih. Memberi pasien informasi mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan dan membantu mengembangkan kepatuhan dan kemandirian maksimum. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1, Barbara Engram hal 159).
      • Sediakan waktu untuk pasien dan orng terdekat untuk membicarakan tentang masalah dan perasaan tentang perubahan gaya hidup yang akan diperlukan untuk memiliki terapi.
        Pengekspresian perasaan membantu mengurangi ansietas. Tindakan untuk gagal ginjal berdampak pada seluruh keluarga. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1, Barbara Engram hal 160).
      • Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar.
        Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penanganan setelah mereka siap untuk memahami dan menerima diagnosis dan konsekuensinya.
      • Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya.
        Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit.


    4. Implementasi
    Asuhan Keperawatan pada klien dengan kegagalan ginjal kronis.
    • Membantu Meraih Tujuan Terapi
      1. Mengusahakan agar orang tetap menekuni pantangan air yang sudah dipesankan.
      2. Mengusahakan agar orang menekuni diet tinggi karbohidrat disertai pantangan sodium, potassium, phosphorus dan protein.
      3. Tenekuni makanan bahan yang mengikat fosfat.
      4. Memberikan pelunak tinja bila klien mendapat aluminium antacid.
      5. Memberikan suplemen vitamin dan mineral menurut yang dipesankan.
      6. Melindungi pasien dari infeksi.
      7. Mengkaji lingkungan klien dan melindungi dari cedera dengan cara yang seksama.
      8. Mencegah perdarahan saluran cerna yang lebih hebat dengan menggunakan sikat gigi yang berbulu halus dan pemberian antacid.
    • Mengusahakan Kenyamanan
      1. Mengusahakan mengurangi gatal, memberi obat anti pruritis menurut kebutuhan.
      2. Mengusahakan hangat dan message otot yang kejang dari tangan dan kaki bawah.
      3. Menyiapkan air matol buatan untuk iritasi okuler.
      4. Mengusahakan istirahat bila kecapaian.
      5. Mengusahakan agar klien dapat tidur dengan cara yang bijaksana.
    • Konsultasi dan Penyuluhan
      1. Menyiapkan orang yang bisa memberi kesempatan untuk membahas berbagai perasaan tentang kronisitas dari penyakit.
      2. Mengusahakan konsultasi bila terjadi penolakan yang mengganggu terapi.
      3. Membesarkan harapan orang dengan memberikan bantuan bagaimana caranya mengelola cara hidup baru.
      4. Memberi penyuluhan tentang sifat dari CRF, rasional terapi, aturan obat-obatan dan keperluan melanjutkan pengobatan. (Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long).


    5. Evaluasi
    Pertanyaan-pertanyaan yang umum yang harus diajukan pada evaluasi orang dengan kegagalan ginjal kronis terdiri dari yang berikut.
    • Apakah terdapat gejala-gejala bertambahnya retensi cairan?
    • Apakah orang menekuni pesan diet dan cairan yang diperlukan?
    • Apakah terdapat gejala-gejala terlalu kecapaian?
    • Apakah orang tidur nyenyak pada malam hari?
    • Apakah orang dapat menguraikan tentang sifat CRF, rasional dan terapi, peraturan obat-obatan dan gejala-gejalayang harus dilaporkan?





    semoga bermanfaat......!!!!!!!!!!!!!!
    kumpilan askep klik disini


  • Askep Diare Anak

    Diare

    A. Pengertian


    Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengah padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat. Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari. Diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya, yaitu diare akut dan kronis (Mansjoer, A.1999, 501).



    B. Penyebab

    Menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:

    1. Faktor infeksi

      • Infeksi enteral
        Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
      • Infeksi parenteral
      • adalah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.
    2. Faktor malabsorbsi
    3. Malabsorbsi karbohidrat, lemak dan protein.
    4. Faktor makanan
    5. Makanan basi, beracun, terlalu banyak lemak, sayuran dimasak kurang matang.
    6. Faktor psikologis
    7. Rasa takut, cemas
    Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
    1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
      • Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
      • Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
    2. Diare osmotik (osmotik diarrhoea), disebabkan oleh:
      • Malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
      • Kurang kalori protein.
      • Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

    C. Patofisiologi

    Penyebab diare yang utama adalah gangguan osmotik, akibat adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap oleh usus akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
    Diare juga terjadi akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan kemudian diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
    Diare dapat juga terjadi akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
    Gangguan motalitas usus juga mengakibatkan diare, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.


    D. Tanda dan Gejala

    1. Anak sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.
    2. Anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang.
    3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
    4. Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
    5. Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.
    6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran menurun.
    7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).

    E. Pemeriksaan Penunjang

    1. Pemeriksaan tinja
      • Makroskopis dan mikroskopis
      • PH dan kadar gula dalam tinja
      • Bila perlu diadakan uji bakteri
    2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
    3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
    4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

    F. Penatalaksanaan

    1. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
      • Cairan per oral
      • Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.
      • Cairan parentral
      • Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
        • Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
          • 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
          • 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
          • 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
        • Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
          • 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
        • Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
          • 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
          • 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
          • 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
        • Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
          • Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %.
          • Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
          • Untuk bayi berat badan lahir rendah
          • Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).
    2. Pengobatan dietetik
    3. Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
      • Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh.
      • Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim).
      • Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.
    4. Obat-obatan
    5. Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.



    Asuhan Keperawatan Anak dengan Diare


    Pengkajian

    1. Identitas
    2. Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .
    3. Keluhan Utama
    4. BAB lebih dari 3 x
    5. Riwayat Penyakit Sekarang
    6. BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
    7. Riwayat Penyakit Dahulu
    8. Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
    9. Riwayat Nutrisi
    10. Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa, porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan cuci tangan,
    11. Riwayat Kesehatan Keluarga
    12. Ada salah satu keluarga yang mengalami diare.
    13. Riwayat Kesehatan Lingkungan
    14. Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal.
    15. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan
      • Pertumbuhan
        • Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg (rata-rata 2 kg), PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.
        • Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya.
        • Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah.
        • Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.
      • Perkembangan
        • Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.
        • Fase anal : Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido, meulai menunjukan keakuannya, cinta diri sendiri/ egoistic, mulai kenal dengan tubuhnya, tugas utamanyan adalah latihan kebersihan, perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana, hubungna interpersonal, bermain).
        • Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.
        • Autonomy vs Shame and doundt Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). Melalui dorongan orang tua untuk makan, berpakaian, BAB sendiri, jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak.
        • Gerakan kasar dan halus, bacara, bahasa dan kecerdasan, bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun :
          1. Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan sedikitpun 2 hitungan (GK).
          2. Meniru membuat garis lurus (GH).
          3. Menyatakan keinginan sedikitnya dengan dua kata (BBK).
          4. Melepasa pakaian sendiri (BM).
    16. Pemeriksaan Fisik
      • Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar.
      • Keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
      • Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih.
      • Mata : cekung, kering, sangat cekung.
      • Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum.
      • Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan).
      • Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
      • Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
      • Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
      • Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.

    Diagnosa Keperawatan

    1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang.
    2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.
    3. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare.
    4. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.
    5. Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.
    6. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive.

    Intervensi
    Diagnosa 1.:
    Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal

    Kriteria hasil :

    • Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : <>
    • Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
    • Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari.
    Intervensi :
    • Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
    • R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit
    • Pantau intake dan output
    • R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
    • Timbang berat badan setiap hari
    • R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
    • Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
    • R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
    • Kolaborasi :
      • Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
      • R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
      • Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
      • R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
      • Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
      • R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.
    Diagnosa 2.:
    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi

    Kriteria hasil :

    • Nafsu makan meningkat
    • BB meningkat atau normal sesuai umur
    Intervensi :
    • Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin).
    • R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
    • Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat.
    • R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
    • Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan.
    • R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
    • Monitor intake dan out put dalam 24 jam.
    • R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
    • Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
      • terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu.
      • obat-obatan atau vitamin ( A)
      • R/ Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan
    Diagnosa 3. :
    Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh

    Kriteria hasil :

    • Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
    • Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio leasa)
    Intervensi :
    • Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
    • R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)
    • Berikan kompres hangat
    • R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
    • Kolaborasi pemberian antipirektik
    • R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak
    Diagnosa 4.:
    Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekwensi BAB (diare)

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu.

    Kriteria hasil :

    • Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
    • Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar
    Intervensi
    • Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
    • R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
    • Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
    • R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
    • Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
    • R/ Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan iritasi .
    Diagnosa 5.:
    Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive

    Tujuan :
    Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien mampu beradaptasi

    Kriteria hasil :

    • Mau menerima tindakan perawatan, klien tampak tenang dan tidak rewel
    Intervensi :
    • Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan
    • R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
    • Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
    • R/ mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS
    • Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
    • R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
    • Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan, belaian dll)
    • R/ Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien.
    • Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak 



    semoga bermanfaat......!!!!!!!!!!!!!!
    kumpilan askep klik disini

    askep Tetanus Neonatorum


    Tetanus Neonatorum

    A. PENGERTIAN
    Tetanus berasal dari kata tetanos (Yunani) yang berarti peregangan.
    Tetanus Neonatorum :
    Penyakit tetanus pada bayi baru lahir dengan tanda klinik yang khas, setelah 2 hari pertama bayi hidup, menangis dan menyusu secara normal, pada hari ketiga atau lebih timbul kekakuan seluruh tubuh yang ditandai dengan kesulitan membuka mulut dan menetek, disusul dengan kejang–kejang (WHO, 1989).
    Kejang yang sering di jumpai pada BBL, yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia, tetapi disebabkan oleh infeksi selama masa neonatal, yang antara lain terjadi sebagai akibat pemotongan tali pusat atau perawatannya yang tidak bersih Ngastijah, 1997).

    B. ETIOLOGI

    Penyebab tetanus neonatorum adalah clostridium tetani yang merupakan kuman gram positif, anaerob, bentuk batang dan ramping. Kuman tersebut terdapat ditanah, saluran pencernaan manusia dan hewan. Kuman clostridium tetani membuat spora yang tahan lama dan menghasilkan 2 toksin utama yaitu tetanospasmin dan tetanolysin.


    C. PATOFISIOLOGI
    Spora yang masuk dan berada dalam lingkungan anaerobic berubah menjadi bentuk vegetatif dan berbiak sambil menghasilkan toxin. Dalam jaringan yang anaerobic ini terdapat penurunan potensial oksidasi reduksi jaringan dan turunnya tekanan oxigen jaringan akibat adanya nanah, nekrosis jaringan, garam kalsium yang dapat diionisasi. Secara intra axonal toxin disalurkan ke sel saraf (cel body) yang memakan waktu sesuai dengan panjang axonnya dan aktifitas serabutnya. Belum terdapat perubahan elektrik dan fungsi sel saraf walaupun toksin telah terkumpul dalam sel. Dalam sungsum belakang toksin menjalar dari sel saraf lower motorneuron ke lekuk sinaps dan diteruskan ke ujung presinaps dari spinal inhibitory neurin. Pada daerah inilah toksin menimbulkan gangguan pada inhibitory transmitter dan menimbulkan kekakuan.


    Efek Toxin pada :
    1. Ganglion pra sumsum tulang belakang :
      Memblok sinaps jalur antagonist, mengubah keseimbangan dan koordinasi impuls sehingga tonus ototnya meningkat dan otot menjadi kaku. Terjadi penekanan pada hiperpolarisasi membran dari neurons yang merupakan mekanisme yang umum terjadi bila jalur penghambat terangsang. Depolarisasi yang berkaitan dengan jalur rangsangan tidak terganggu. Toksin menyebabkan hambatan pengeluaran inhibitory transmitter dan menekan pengaruh bahan ini pada membran neuron motorik.
    2. Otak :
      Toxin yang menempel pada cerebral gangliosides diduga menyebabkan gejala kekakuan dan kejang yang khas pada tetanus. Hambatan antidromik akibat rangsangan kortikal menurun.
    3. Saraf otonom :
      Terutama mengenai saraf simpatis dan menimbulkan gejala keringat yang berlebihan, hiperthermia, hypotensi, hypertensi, arytmia cardiac block atau takhikardia. Sekalipun otot yang terkena adalah otot bergaris terutama otot penampang dan penggerak tubuh yang besar-besar, pada tetanus berat otot polos juga ikut terkena, sehingga timbul manifestasi klinik seperti disebutkan diatas.

    D. MANIFESTASI

    Gejala klinik pada tetanus neonatorum sangat khas sehingga masyarakat yang primitifpun mampu mengenalinya sebagai “penyakit hari kedelapan” (Jaffari, Pandit dan Ismail 1966). Anak yang semula menangis, menetek dan hidup normal, mulai hari ketiga menunjukan gejala klinik yang bervariasi mulai dari kekakuan mulut dan kesulitan menetek, risus sardonicus sampai opistotonus. Trismus pada tetanus neonatorum tidak sejelas pada penderita anak atau dewasa, karena kekakuan otot leher lebih kuat dari otot masseter, sehingga rahang bawah tertarik dan mulut justru agak membuka dan kaku (Athvale, dan Pai, 1965, Marshall, 1968). Bentukan mulut menjadi mecucu (Jw) seperti mulut ikan karper. Bayi yang semula kembali lemas setelah kejang dengan cepat menjadi lebih kaku dan frekuensi kejang-kejang menjadi makin sering dengan tanda-tanda klinik kegagalan nafas (Irwantono, Ismudijanto dan MF Kaspan 1987). Kekakuan pada tetanus sangat khusus : fleksi pada tangan, ekstensi pada tungkai namun fleksi plantar pada jari kaki tidak tampak sejelas pada penderita anak.
    Kekakuan dimulai pada otot-otot setempat atau trismus kemudian menjalar ke seluruh tubuh, tanpa disertai gangguan kesadaran. Seluruh tubuh bayi menjadi kaku, bengkok (flexi) pada siku dengan tangan dikepal keras keras. Hipertoni menjadi semakin tinggi, sehingga bayi dapat diangkat bagaikan sepotong kayu. Leher yang kaku seringkali menyebabkan kepala dalam posisi menengadah.

    Gambaran Umum pada Tetanus

    1. Trismus (lock-jaw, clench teeth)
      Adalah mengatupnya rahang dan terkuncinya dua baris gigi akibat kekakuan otot mengunyah (masseter) sehingga penderita sukar membuka mulut. Untuk menilai kemajuan dan kesembuhan secara klinik, lebar bukaan mulut diukur tiap hari. Trismus pada neonati tidak sejelas pada anak, karena kekakuan pada leher lebih kuat dan akan menarik mulut kebawah, sehingga mulut agak menganga. Keadaan ini menyebabkan mulut “mecucu” seperti mulut ikan tetapi terdapat kekakuan mulut sehingga bayi tak dapat menetek.
    2. Risus Sardonicus (Sardonic grin)
      Terjadi akibat kekakuan otot-otot mimic dahi mengkerut mata agak tertutup
      sudut mulut keluar dan kebawah manggambarkan wajah penuh ejekan sambil menahan kesakitan atau emosi yang dalam.
    3. Opisthotonus
      Kekakuan otot-otot yang menunjang tubuh : otot punggung, otot leher, trunk muscle dan sebagainya. Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur, bertumpu pada tumit dan belakang kepala. Secara klinik dapat dikenali dengan mudahnya tangan pemeriksa masuk pada lengkungan busur tersebut.
      Pada era sebelum diazepam, sering terjadi komplikasi compression fracture pada tulang vertebra.
    4. Otot dinding perut kaku, sehingga dinding perut seperti papan. Selain otot didnding perut, otot penyangga rongga dada juga kaku, sehingga penderita merasakan keterbatasan untuk bernafas atau batuk. Setelah hari kelima perlu diwaspadai timbulnya perdarahan paru (pada neonatus) atau bronchopneumonia.
    5. Bila kekakuan makin berat, akan timbul kejang-kejang umum, mula-mula hanya terjadi setelah penderita menerima rangsangan misalnya dicubit, digerakkan secara kasar, terpapar sinar yang kuat dan sebagainya, lambat laun “masa istirahat” kejang makin pendek sehingga anak jatuh dalam status convulsivus.
    6. Pada tetanus yang berat akan terjadi :
      Gangguan pernafasan akibat kejang yang terus-menerus atau oleh karena spasme otot larynx yang bila berat menimbulkan anoxia dan kematian.
      Pengaruh toksin pada saraf otonom akan menyebabkan gangguan sirkulasi (akibat gangguan irama jantung misalnya block, bradycardi, tachycardia, atau kelainan pembuluh darah/hipertensi), dapat pula menyebabkan suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) atau berkeringat banyak hiperhidrosis).
      Kekakuan otot sphincter dan otot polos lain seringkali menimbulkan retentio alvi atau retention urinae.
      Patah tulang panjang (tulang paha) dan fraktur kompresi tulang belakang.

    E. DIAGNOSIS, DIAGNOSA BANDING DAN KOMPLIKASI

    1. Diagnosa
      Pemeriksaan laboratorium : Liquor Cerebri normal, hitung leukosit normal atau sedikit meningkat. Pemeriksaan kadar elektrolit darah terutama kalsium dan magnesium, analisa gas darah dan gula darah sewaktu penting untuk dilakukan.
      Pemeriksaan radiologi : Foto rontgen thorax setelah hari ke-5.
    2. Diagnosa Banding
      Meningitis
      Meningoenchepalitis
      Enchepalitis
      Tetani karena hipocalsemia atau hipomagnesemia
      Trismus karena process lokal
    3. Komplikasi
      Bronkhopneumonia
      Asfiksia
      Sepsis Neonatorum


    F. FAKTOR RESIKO DAN PENCEGAHAN
    1. Faktor resiko
      Tetanus neonatorum terjadi pada masa perinatal, antara umur 0 sampai 28 hari, terutama pada saat luka puntung tali pusat belum kering, sehingga spora C. tetani dapat mencemari dan berbiak menjadi kuman vegetatif.
      Menurut Foster, (1983) serta Sub Dinas PPM Propinsi Jawa Timur, (1989) terdapat 5 faktor resiko pokok tetanus neonatorum yaitu : (a) faktor resiko pencemaran lingkungan fisik dan biologik, (b) faktor cara pemotongan tali pusat, (c) faktor cara perawatan tali pusat, (d) faktor kebersihan pelayanan persalinan dan (e) faktor kekebalan ibu hamil.

      • Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik
        Merupakan faktor yang menentukan kepadatan kuman dan tingginya tingkat pencemaran spora di lingkungannya. Risiko akan hilang bila lahan pertanian dan peternakan diubah penggunaannya.
      • Faktor Cara Pemotongan Tali Pusat
        Penggunaan sembilu, pisau cukur atau silet untuk memotong tali pusat tergantung pada pengertian masyarakat akan sterilitas. Setelah dipotong, tali pusat dapat disimpul erat-erat atau diikat dengan benang. Penolong persalinan biasanya lebih memusatkan perhatian pada ”kelahiran” plasenta dan perdarahan ibu.
      • Faktor Cara Perawatan Tali Pusat
        Tata cara perawatan perinatal sangat berkaitan erat dengan hasil interaksi antara tingkat pengetahuan, budaya, ekonomi masyarakat dan adanya pelayanan kesehatan di lingkungan sekitarnya. Masyarakat di banyak daerah masih menggunakan daun-daun, ramuan, serbuk abu dan kopi untuk pengobatan luika puntung tali pusat. Kebiasaan ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan pendidikan dukun bayi saja.
      • Faktor Kebersihan Pelayanan Persalinan
        Merupakan interaksi antara kondisi setempat dengan tersedianya pelayanan kesehatan yang baik di daerah tersebut yang menentukan subyek penolong persalinan dan kebersihan persalinan. Untuk daerah terpencil yang belum terjangkau oleh pelayanan persalinan yang higienis maupun daerah perkotaan yang biaya persalinannya tak terjangkau oleh masarakat, peranan dukun bayi (terlatih atau tidak) maupun penolong lain sangatlah besar. Pelatihan dukun bayi dapat menurunkan kematian perinatal namun tidak berpengaruh pada kejadian tetanus neonatorum.
        Masih banyak ibu yang tidak memeriksakan kehamilannya (25 sampai 60%) dan lebih banyak lagi yang persalinannya tidak ditolong oleh tenaga medis (70%) sehingga resiko tetanus neonatorum bagi bayi lahir di Indonesia besar.
      • Faktor Kekebalan Ibu Hamil
        Merupakan faktor yang sangat penting. Antibodi antitetanus dalam darah ibu hamil yang dapat disalurkan pada bayinya dapat mencegah manifestasi klinik infeksi dengan kuman C. tetani (Suri, dkk,1964). Suntikan tetanus toksoid 1 kalipun dapat mengurangi kematian tetanus neonatorum dari 70-78 per 1000 kelahiran hidup menjadi 40 per 1000 kelahiran hidup (Newell, 1966, Black, 1980, Rahman, 1982).
    2. Pencegahan
      Tindakan pencegahan bahkan eliminasi terutama bersandar pada tindakan menurunkan atau menghilangkan factor-faktor resiko. Meskipun banyak faktor resiko yang telah dikenali dan diketahui cara kerjanya, namun tidak semua dapat dihilangkan, misalnya lingkungan fisik dan biologik. Menekan kejadian tetanus neonatorum dengan mengubah lingkungan fisik dan biologik tidaklah mudah karena manusia memerlukan daerah pertanian dan peternakan untuk produksi pangan mereka.
      Pendekatan pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan mengupayakan kebersihan lingkungan yang maksimal agar tidak terjadi pencemaran spora pada proses persalinan, pemotongan dan perawatan tali pusat. Mengingat sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun, maka praktek 3 bersih, yaitu bersih tangan, alat pemotong tali pusat dan alas tempat tidur ibu (Dep. Kesehatan, 1992), serta perawatan tali pusat yang benar sangat penting dalam kurikulum pendidikan dukun bayi. Bilamana attack rate tak dapat diturunkan dan penurunan faktor risiko persalinan serta perawatan tali pusat memerlukan waktu yang lama, maka imunisasi ibu hamil merupakan salah satu jalan pintas yang memungkinkan untuk ditempuh.
      Pemberian tokoid tetanus kepada ibu hamil 3 kali berturut-turut pada trimester ketiga dikatakan sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum. Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang steril dan perawatan tali pusat selanjutnya.


    G. TATA LAKSANA
    • Medik
      Empat pokok dasar tata laksana medik : debridement, pemberian antibiotik, menghentikan kejang, serta imunisasi pasif dan aktif, yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

      1. Diberikan cairan intravena dengan larutan glukosa 5% dan NaCl fisiologis dalam perbandingan 4 : 1 selama 48-72 jam selanjutnya IVFD hanya untuk memasukan obat. Jika pasien telah dirawat lebih dari 24 jam atau pasien sering kejang atau apnea, diberikan larutan glukosa 10% dan natrium bikarbonat 1,5% dalam perbandingan 4 : 1 (jika fasilitas ada lebih baik periksa analisa gas darah dahulu). Bila setelah 72 jam bayi belum mungkin diberi minum peroral/sonde, melalui infus diberikan tambahan protein dan kalium.
      2. Diazepam dosis awal 2,5 mg intravena perlahan-lahan selama 2-3 menit, kemudian diberikan dosis rumat 8-10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam cairan infus dan diganti setiap 6 jam). Bila kejang masih sering timbul, boleh ditambah diazepam lagi 2,5 mg secara intravena perlahan-lahan dan dalam 24 jam berikutnya boleh diberikan tembahan diazepam 5 mg/kgBB/hari sehingga dosis diazepam keseluruhannya menjadi 15 mg/kgBB/hari. Setelah keadaan klinis membaik, diazepam diberikan peroral dan diurunkan secara bertahap. Pada pasien dengan hiperbilirubinemia berat atau bila makin berat, diazepam diberikan per oral dan setelah bilirubin turun boleh diberikan secara intravena.
      3. ATS 10.000 U/hari, diberikan selama 2 hari berturut-turut dengan IM. Perinfus diberikan 20.000 U sekaligus.
      4. Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, intravena selama 10 hari. Bila pasien menjadi sepsis pengobatan seperti pasien lainnya. Bila pungsi lumbal tidak dapat dilakukan pengobatan seperti yang diberikan pada pasien meningitis bakterialis.
      5. Tali pusat dibersihkan/kompres dengan alcohol 70%/Betadine 10%.
      6. Perhatikan jalan napas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.
    • Keperawatan
      Perawatan intensif terutama ditujukan untuk mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi, menjaga saluran nafas tetap bebas, mempertahankan oksignasi yang adekuat, dan mencegah hipotermi. Perawatan puntung tali pusat sangat penting untuk membuang jaringan yang telah tercemar spora dan mengubah keadaan anaerob jaringan yang rusak, agar oksigenasi bertambah dan pertumbuhan bentuk vegetatif maupun spora dapat dihambat. setelah puntung tali pusat dibersihkan dengan perhydrol, dibutuhkan povidon 10% dan dirawat secara terbuka. Perawatan puntung tali pusat dilakukan minimal 3 kali sehari.




    ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TETANUS NEONATORUM
    1. Pengkajian
      1. Identitas
      2. Riwayat Keperawatan : antenatal, intranatal, postnatal.
      3. Pemeriksaan Fisik
        • Keadaan Umum : Lemah, sulit menelan, kejang
        • Kepala : Poisi menengadah, kaku kuduk, dahi mengkerut, mata agak tertutup, sudut mulut keluar dan kebawah.
        • Mulut : Kekakuan mulut, mengatupnya rahang, seperti mulut ikan.
        • Dada : Simetris, kekakuan otot penyangga rongga dada, otot punggung.
        • Abdomen : Dinding perut seperti papan.
        • Kulit : Turgor kurang, pucat, kebiruan.
        • Ekstremitas : Flexi pada tangan, ekstensi pada tungkai, hipertoni sehingga bayi dapat diangkat bagai sepotong kayu.
      4. Pemeriksaan Persistem
        • Respirasi : Frekuensi nafas, penggunaan otot aksesori, bunyi nafas, batuk-pikel.
        • Kardiovaskuler : Frekuensi, kualitas dan irama denyut jantung, pengisian kapiler, sirkulasi, berkeringat, hiperpirexia.
        • Neurologi : Tingkat kesadaran, reflek pupil, kejang karena rangsangan.
        • Gastrointestinal : Bising usus, pola defekasi, distensi
        • Perkemihan : Produksi urine
        • Muskuloskeletal : Tonus otot, pergerakan, kekakuan.
    2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
      1. Ketidakefektifan pola nafas b.d kelelahan otot-otot respirasi
      2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b.d refleks menghisap pada bayi tidak adekuat.
    3. Intervensi
      Ketidakefektifan pola nafas b.d kelelahan otot-otot respirasi
      Intervensi :
      • Kaji frekuensi dan pola nafas
      • Perhatikan adanya apnea dan perubahan frekuensi jantung, tonus otot dan warna kulit.
      • Lakukan pemantauan jantung dan pernafasam secara kontinue.
      • Hisap jalan nafas sesuai kebutuhan.
      • Beri rangsang taktil segera setelah apnea.
      • Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
      • Beri O2 sesuai indikasi.
      • Beri obat-obatan sesuai indikasi.

      Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b.d refleks menghisap pada bayi tidak adekuat.
      Intervensi :

      • Kaji maturitas refleks berkenaan dengan pemberian makan, menghisap, menelan dan batuk.
      • Auskultasi bising usus.
      • Kaji tanda-tanda hipoglikemia.
      • Beri suplemen elektrolit sesuai medikasi.
      • Beri nutrisi parenteral.
      • Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
      • Lakukan pemberian minum sesuai toleransi.
       


    semoga bermanfaat......!!!!!!!!!!!!!!
    kumpilan askep klik disini
    1.  

    Askep Appendiksitis




    Appendiksitis

    1. Pengertian
    Appendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).
    Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)
    Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)
    Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks (Anonim, Apendisitis, 2007).

    2. Klasifikasi

    Klasifikasi  Appendiksitis terbagi atas 2 yakni :


    1. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.


    2. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.

    3. Etiologi
    Appendiksitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat :
    1. Hiperplasia dari folikel limfoid.
    2. Adanya fekalit dalam lumen appendiks.
    3. Tumor appendiks.
    4. Adanya benda asing seperti cacing askariasis.
    5. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica.
    Menurut penelitian, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan appendiksitis. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal, sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.

    4. Tanda dan gejala
    Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.

    Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi appendiks. Bila appendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal ; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahuipada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung appendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekeakuan pada bagian bawah otot rektum kanan dapat terjadi.

    Tand Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila appendiks telah ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar ; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi klien memburuk.

    5. Patofisiologi
    Penyabab utama appen adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan (Karsinoma Karsinoid).

    Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus.

    Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
    Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan appendisitis perforasi.

    Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi ; 1982).

    6. Komplikasi
    • Perforasi dengan pembentukan abses
    • Peritonitis generalisata.
    • Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.

    7. Pencegahan
    Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren,perforasi dan peritonitis.

    8. Penatalaksanaan
    Pada appendiksitis akut, pengobatan yang paling baik adalah operasi appendiks. Dalam waktu 48 jam harus dilakukan. Penderita di obsevarsi, istirahat dalam posisi fowler, diberikan antibiotik dan diberikan makanan yang tidak merangsang persitaltik, jika terjadi perforasi diberikan drain di perut kanan bawah.
    • Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan.
    • Tindakan operatif ; appendiktomi.
    • Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.


    Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Appendiksitis


    A. Pengkajian
    1. Identitas Pasien
      Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
    2. Riwayat Keperawatan

      • Riwayat Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.
      • Riwayat Kesehatan masa lalu
    3. Pemeriksaan Fisik

      • Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
      • Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.
      • Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
      • Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
      • Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
    4. Pemeriksaan Penunjang

      • Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi.
      • Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.

    Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
    1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi appenditomi.
    2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri.
    3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi.
    4. Resiko kekurangan volume cairan sehubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral.

    Intervensi

    Diagnosa Keperawatan 1. :
    Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi

    Tujuan
    Nyeri berkurang / hilang dengan

    Kriteria Hasil :
    Tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat.

    Intervensi
    • Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat.
    • Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler.
    • Dorong ambulasi dini.
    • Berikan aktivitas hiburan.
    • Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika.
    Rasional
    1. Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan karakteristik nyeri.
    2. Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.
    3. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ.
    4. meningkatkan relaksasi.
    5. Menghilangkan nyeri.

    Diagnosa Keperawatan 2. :
    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri

    Tujuan
    Toleransi aktivitas

    Kriteria Hasil :
    • Klien dapat bergerak tanpa pembatasan
    • Tidak berhati-hati dalam bergerak.

    Intervensi
    • catat respon emosi terhadap mobilitas.
    • Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien.
    • Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif.
    • Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan.
    Rasional
    1. Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan.
    2. Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan.
    3. Memperbaiki mekanika tubuh.
    4. Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan.

    Diagnosa Keperawatan 3. :
    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi

    Tujuan
    Infeksi tidak terjadi

    Kriteria Hasil :
    Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan

    Intervensi
    • Ukur tanda-tanda vital
    • Observasi tanda-tanda infeksi
    • Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik
    • Observasi luka insisi
    Rasional
    1. Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi
    2. Deteksi dini terhadap infeksi akan mudah
    3. Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran bakteri.
    4. Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka.

    Diagnosa Keperawatan 4. :
    Resiko kekurangan volume cairan berhubungna dengan pembatasan pemasuka n cairan secara oral

    Tujuan
    Kekurangan volume cairan tidak terjadi

    Intervensi
    • Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh
    • Awasi vital sign: Evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
    • Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intra vena
    Rasional
    1. Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti.
    2. Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi
    3. Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan fungsi ginjal



    semoga bermanfaat......!!!!!!!!!!!!!!
    kumpilan askep klik disini